• Beranda
  • Sejarah
  • Pengurus
  • Contact
  • Dinding
  • Beranda
  • Dinding Komentar
  • Seputar Plasma
  • Seputar Sekolah
  • Info Pecinta Alam
  • Materi


Sejumlah warga sempat adu mulut dengan petugas kepolisian setelah akses menuju jalan kaliurang KM 14,5 atau tepatnya pertigaan Pamungkas baik ke arah utara Pakem maupun jalan alternatif menuju Cangkringan dari sisi timur diblokir, Kamis (18/11).

Pemblokiran ketat yang dilakukan sejak pukul 08.00 WIB itu digelar untuk mengantisipasi warga yang selama ini masih sering naik turun ke wilayah rawan (zona di dalam 20 km) bencana Merapi.

Namun sejumlah warga menilai tindakan blokade polisi yang berjarak sekitar 200 meter selatan kampus Universitas Islam Indonesia (UII) itu berlebihan dan justru membuat panik.

Banyak dari mereka penasaran kenapa blokade secara ketat baru dilakukan hari ini dan tidak sebelum-sebelumnya. Terlebih blokade juga mencakup daerah yang dianggap warga selama ini masih dalam zona aman (di luar 20 KM).

"Saya tanggung sendiri kalau saya mati. Kalau perlu saya buat pernyataan tertulis. Rumah saya cuma beberapa meter dari pertigaan ini [pertigaan Pamungkas], masak sampai segitunya. Saya hanya mau ambil barang lalu mengungsi lagi,” kata seorang ibu paruh baya warga Padukan (timur pertigaan) yang tak mau disebut namanya. Seorang petugas pun lalu mengantarkan ibu itu ke rumahnya untuk mengambil barang.

Seorang relawan Merapi dari GNFI Syuhadah Dennis yang sehari-hari bertugas di pos Pakem mengatakan blokade kali ini memang membuat penasaran. Pasalnya beberapa hari sebelumnya khususnya saat Merapi sedang ganas-ganasnya dirinya tak pernah menemui blokade seketat ini.

Dua mahahasiswi UII yang indekos di timur pertigaan itu juga hendak mengambil barang dari kosnya terpaksa meletakkan motornya dipertigaan lalu berjalan kaki.

Baru setelah menjelang siang, melalui pengeras suara dijelaskan soal kondisi Merapi yang masih dalam status Awas dan warga diminta untuk memutar balik kendaraannya, tidak nekat ke atas.

Sementara itu, Wakapolsek Pakem Iptu Suradal saat dikonfirmasi mengatakan blokade hari ini dilakukan karena kondisi Merapi kian sulit terpanatau terutama setelah tertutup kabut. Sehingga blokade untuk antisipasi hal-hal yang tak diinginkan.(Harian Jogja/Pribadi Wicaksono)
Akibat banjir lahar dingin di sejumlah sungai yang berhulu di gunung Merapi, Dinas Pekerjaan Umum Energi dan Sumber Daya Mineral (DPU ESDM) Kabupaten Magelang mencatat ada 23 saluran irigasi yang rusak dengan kerugian total mencapai Rp4,2 miliar.

Kepala DPU ESDM setempat Haryono Yahmo menyebutkan kerusakan itu yang tercatat hingga Senin (15/11). “Jumlah itu yang berada di kawasan aman, karena yang berada dalam radius bahaya Merapi, petugas kami belum berani mendatangi,” jelasnya, Kamis (18/11).

Kerusakan tersebut, kata Haryono, terjadi di Kecamatan Dukun, Muntilan, Salam, Ngluwar, Srumbung dan Dukun. Menurutnya, kerusakan yang terjadi masih relatif ringan, kebanyakan berupa saluran irigasi yang tertimbun material lahar dingin.

Dari kerusakan ini, Haryono menyebutkan, untuk perbaikan harus dimasukkan ke tahap rekonstruksi pasca bencana. Sayangnya, hingga saat ini PemkabMagelang masih menegaskan belum mulai tahap tersebut karena masih fokus tahap tanggap darurat.

DPU ESDM, saat ini telah mengajukan perbaikan tiga kerusakan yang dianggap mendesak untuk diperbaiki, dengan nilai total Rp2,3 miliar.(Harian Jogja/Nina Atmasari)

Foto Banjir lahar dingin (Harian Jogja/Desi Suryanto)
Meski gunung Merapi terus mengeluarkan letusan setiap hari, namun warga di wilayah kecamatan Selo tidak lagi mendengar suara gemuruh sebagaimana terjadi pada letusan besar pekan lalu. Hal itu membuat warga yang kini masih tinggal di pemukiman di wilayah Selo semakin tenang tinggal di rumah mereka meski kawawsan itu masuk wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang diperluas.

Seperti letusan yang terjadi para Sabtu (13/11) siang, warga di Desa Lencoh Kecamatan Selo Boyolali tak lagi panik dan telah menganggap sebagai letusan biasa yang tidak membahayakan mereka. “Sudah biasa, meski kepulan asapnya membumbung tinggi, tapi tidak akan membahayakan daerah sini,” kata Karjo (61) warga Desa Lencoh ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (13/11).

Menurutnya, warga tidak takut lagi jika Merapi meletus tanpa mengeluarkan suara gemuruh yang keras. “Waktu letusan besar pekan lalu, warga langsung mengungsi karena letusan Merapi disertai suara gemuruh dan sambaran kilat yang menakutkan, sekarang ini sudah tidak terdengar lagi suara gemuruh seperti itu,” kata Karjo yang baru dua hari ini pulang dari pengungsiaan di gedung pertemuan Karanggeneng Boyolali Kota.

Suara gemuruh Merapi yang disertai dengan kilat menyambar, mengingatkan warga kejadian serupa yang menghancurkan pemukiman warga Dukuh Ngancar Kecamatan Selo tahun 1956 silam. Dalam kejadian itu dilaporkan 56 warga tewas ditelan awan panas gunung Merapi. “Warga disini masih percaya dengan cerita orang orang tua yang mengisahkan kejadian itu,” katanya.

Makanya, tambah dia, banyak warga yang kini memutuskan pulang setelah mengungsi lebih dari satu minggu karena orang orang tua yang masih tinggal di Selo tidak lagi mendengar suara gemuruh Merapi sebagaimana kejadian tahun 1956. “Berangsur angsur warga sudah kembali pulang bersama anak istri mereka,” kata Karjo lagi. 

sumber : krjogja.com
Kini radius aman letusan Gunung Merapi berubah untuk Kabupaten Boyolali, Magelang, dan Klaten. Radius aman Merapi kini menurun untuk tiga kabupaten tersebut, Sabtu (13/10/2010).

Beberapa hari ini status radius aman Merapi adalah 20 kilometer, sekarang berubah, kecuali untuk Kabupaten Sleman Yogyakarta. Menurut staf khusus presiden bidang sosial dan bencana, Andi Arif, dalam akun twitternya menjelaskan bahwa perubahan status radius tersebut di antaranya Boyolali 10 kilometer, Magelang 15 kilometer, dan Klaten 10 kilometer..

"Status merapi tetap: Awas Merapi! Sleman tetap pada radius 20 kilometer," ujarnya.

Pertimbangan perubahan radius aman merapi di tiga kabupaten Jawa Tengah tersebut di antaranya, awan panas dari Puncak Gunung Merapi. Saat ini sudah diketahui bila jarak luncuran awan panas di Kabupaten Sleman kali Gendol 14 kilometer jauhnya, Magelang kali Bebeng jaraknya 11,5 kilometer, Boyolali kali Apu 4 kilometer, dan Klaten kali Woro 7 kilometer.

Meskipun demikian, berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 13 November 2010 dari pukul 00.00 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB, menunjukkan aktivitas Gunung Merapi masih tinggi. Dengan kondisi tersebut, maka status aktivitas Gunung Merapi pada tingkat Awas (level 4).

Kompas.com
Fian (10), pengungsi asal Desa Kradenan, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, menangis ketika mengikuti pelajaran di sekolah darurat. Perutnya sakit dan kepalanya pusing sehingga seorang relawan mengantarnya ke Posko Kesehatan Korps Marinir TNI AL di Gedung Armada di Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Lah... biasanya tentara itu perang dan memegang senjata, jadi awalnya saya takut.

Di dalam posko tersebut, seorang anggota Marinir memeriksa tekanan darah Fian dengan tensimeter. Seorang tentara lainnya menyiapkan obat-obatan. Begitu pemeriksaan rampung, Komandan Posko Kesehatan Korps Marinir TNI AL, Letnan Dua Nur Solihin, menerangkan aturan meminum obat. ”Makan yang banyak lalu minum obatnya ya. Jangan sampai terlambat makan. Jadi anak lelaki harus tangguh, tidak mudah menyerah,” kata Nur Solihin, Kamis (11/11).

Fian yang semula menangis, menganggukkan kepala sembari tersenyum kecil. Kemudian, seorang anggota Marinir mengantarkan bocah kelas V SD itu ke orangtuanya yang mengungsi di Gedung Armada.

”Terima kasih obatnya, Pak Tentara,” kata Fian yang berkali-kali masih memegangi perutnya.

Pasukan Marinir II Jakarta Bidang Kesehatan tidak bertugas menjaga kesehatan para marinir di lautan. Mereka ditugaskan untuk menjaga kesehatan pengungsi, antara lain di tempat pengungsian sementara (TPS) di Gedung Armada, Lapangan Tembak Akademi Militer, dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muntilan.

Khusus di Gedung Armada, personel yang diterjunkan berjumlah 17 orang. Kegiatan mereka adalah melayani kesehatan pengungsi, menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan pengungsi, dan juga menghibur para pengungsi.

Nur Solihin mengatakan, semula para pengungsi enggan berobat ke Posko Kesehatan Marinir karena takut dengan tentara. Untuk itu, pada saat pergelaran musik organ tunggal, para anggota Marinir itu berupaya menarik perhatian pengungsi dengan menyanyi dan menyapa mereka.

”Pada saat shalat bersama, saya berupaya memberikan kultum atau buah-buah permenungan kepada para pengungsi agar mereka kuat menghadapi cobaan hidup,” kata Nur.

Nur menambahkan, cara-cara itu berhasil menarik hati para pengungsi. Mereka yang semula sakit dan enggan berobat, mulai berdatangan ke Posko Kesehatan Marinir. Pengungsi yang berobat semula berjumlah 22 orang, pada hari-hari selanjutnya meningkat dan paling banyak mencapai 73 orang. Mereka kebanyakan sakit saluran pencernaan, diare, infeksi saluran pernapasan, dan iritasi mata.

”Lah... biasanya tentara itu perang dan memegang senjata, jadi awalnya saya takut. Namun, karena mereka ramah-ramah dan tidak galak, saya jadi tidak takut meminta obat tetes mata,” kata Mbah Sawiyah (68), warga Desa Dukun, Kecamatan Dukun.

Bukan di bidang kesehatan saja, para prajurit berpakaian loreng dari berbagai kesatuan Angkatan Darat dan Angkatan Laut tersebut juga menangani berbagai hal. Misalnya, menjadi tenaga masak di dapur umum, membersihkan jalanan dari tumpukan abu dan batang pepohonan yang tumbang, mengevakuasi warga, dan menjaga keamanan desa-desa yang ditinggalkan.

Letnan Satu CZI Prabowo dari Akademi Militer Magelang, mengaku setiap hari harus bergantian menjaga Jembatan Srowol di Desa Progowati, Kecamatan Mungkid. Pasalnya, jembatan itu rawan ambruk lantaran tanah di sekitar fondasi atau kaki jembatan berulang kali tergerus banjir lahar dingin.

”Kalau tidak dijaga, banyak pengendara yang nekat melalui jembatan itu. Susah mengatur orang, padahal itu demi keselamatan mereka sendiri,” kata Prabowo. 
(HENDRIYO WIDI) Kompas.com
Tumpahan material vulkanik akibat bencana erupsi Gunung Merapi yang terbawa air hujan berdampak pada perikanan di Kabupaten Bantul. Lahar dingin Gunung Merapi mengaliri sejumlah sungai yang menuju di wilayah Kabupaten Bantul, di antaranya sungai Code, Opak, Gajah Wong dan Winongo, sehingga petani ikan yang mengambil air dari sungai tersebut untuk budi daya perikanan berdampak buruk pada ikan-ikan itu.

"Material vulkanik yang menjadi lahar dingin mengalir ke sejumlah sungai sebabkan kandungan air sungai itu tercemar sehingga berdampak pada budi daya perikanan yang memanfaatkan air dari sungai itu," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, (DKP) Bantul Edy Mahmud Hidayat di Bantul, Sabtu (13/11).

Edy mengatakan, berdasarkan informasi dari petugas lapangan mnyebutakan jika sejumlah ikan milik petani ikan kondisinya mabuk bahkan mati, karena memang aliran air yang digunakan untuk kolam tercemar material vulkanik. "Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus maka dapat menyebabkan dampak negatif bagi produksi perikanan di Bantul, dimana diperkirakan mengalami penurunan sekitar 60 persen," katanya.

Lebih lanjut kata dia, tercatat ikan yang mati sebanyak 28.700 ekor untuk budidaya karamba, perairan umum atau ikan tangkap yang mati sebanyak 1.900 ekor, sementara kelompok pembudidaya ikan sebanyak 721.030 ekor. "Sejumlah ikan tersebut berada tersebar pada sejumlah kecamatan se Bantul di antaranya Kecamatan Kasihan, Pleret, Srandakan, Pundong, Jetis, Sanden, Pandak dan Sewon," katanya.

Ia mengatakan, material vulkanik yang terbawa air hujan yang mengalir bersama air sungai dapat menyebabkan kadar oksigen air itu minim, sehingga ikan yang terdapat pada perairan tersebut kekurangan oksigen hingga menyebabkan kematian.

"Tidak hanya itu perairan yang tercemar abu vulkanik akan berdampak negatif dalam jangka panjang karena akan melumpuhkan benih ikan itu sendiri, kami minta petani ikan waspada dan diimbau menutup saluran air ke kolam yang memanfaatkan air sungai yang terkena lahar dingin," katanya.
(Ant/Van) Krjogja.com
JOGJA: Sejak meletus secara eksplosif pada Selasa (26/10) Gunung Merapi belum juga berhenti beraktivitas dengan intensitas tinggi. Kisah Merapi pun diyakini masih akan berlangsung lama. Berdasarkan data aktivitas Merapi dalam sehari kemarin memang terlihat sedikit kalem. Namun tetap dalam intensitas yang tinggi.

“Sampai hari ini [kemarin], aktivitas masih tinggi, status masih awas, kalau sudah turun saya turunkan, tapi kenyataanya kan belum, tadi [kemarin] malam sekitar jam 01.00 terjadi awan panas sampai 4 km, jadi sandiwara Merapi masih panjang dan belum selesai,” Ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, saat ditemui Harian Jogja di Gedung BPPTK Jogja, Selasa (7/11).

Menurut dia, pada saat ini semua hal terkait aktivitas Gunung Merapi masih perlu diwaspadai baik dari aktivitas kegempaan seperti gempa tremor yang terus terjadi, awan panas maupun potensi terjadinya banjir lahar dingin.

“Gempa low frekuensi hari ini terjadi 3 kali, artinya semua magma sedang naik ke permukaan, jadi alam itu punya hukumnya sendiri, sehingga naik atau turun bergantung pada aktivitas alam itu sendiri bagaimana, kita hanya mengamati,” katanya.

Data laporan aktivitas Gunung Merapi pada Selasa (7/11) pukul 00.00 WIB – 18.00 WIB menunjukkan erupsi masih terus berlangsung dan cenderung turun. Gempa vulkanik hanya terjadi 7 kali. Dua hari sebelumnya sebanyak 31 kali dan sehari sebelumnya 13 kali. (lihat grafis)

Sementara itu secara visual dari Ketep dilaporkan selalu dilaporkan suara gemuruh dengan intensitas lemah kuat, suara gemuruh cukup kuat terdengar pada pukul 02.08 WIB, teramati pula sinar api guguran lava, sedangkan pada pukul 05.00 WIB teramati kolom asap setinggi 1500 meter.

Sampai tadi malam awan panas juga kembali meluncur dengan jarak sekitar 4 km ke hulu Gendol. Luncuran terjadi sekitar pukul 19.40 WIB. Petir yang menyambar-nyambar di sekitar Merapi menjadikan kondisi semakin mencekam. Lava pijar juga beberapa kali terpantau keluar dari puncak Merapi.

Sejarah baru
Gunung ini pun mencatat sejarah dengan melampaui batas maksimum yang sudah pernah tercatat oleh sejarah. Dalam letusan periode kali ini Merapi telah melewati kedahsyatan letusan 1872 terutama jika dilihat dari jumlah material yang dilontarkan gunung teraktif di Indonesia tersebut.

Sekadar diketahui letusan 1872 disebut sebagai letusan terdahsyat terakhir yang terjadi pada abad ke-19. Letusan kalah itu terjadi selama lima hari dan membentuk kawah dengan diamater antara 580-600 meter. Suara letusan terdengar hingga Kerawang, Madura dan Bawean serta menghancurkan sejumlah desa. Hanya saja tidak ada catatan korban jiwa.

"Jika diukur dengan indeks letusan, maka letusan pada 2010 ini lebih besar dibanding letusan Merapi yang pernah tercatat dalam sejarah yaitu pada 1872," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo, Selasa (9/11).

Menurut dia, salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan besar indeks letusan adalah dari jumlah material vulkanik yang telah dilontarkan. Pada letusan 1872, jumlah material vulkanik yang dilontarkan oleh Gunung Merapi selama proses erupsi mencapai 100 juta meter kubik.

Sementara itu, hingga kini jumlah material vulkanik yang telah dimuntahkan Gunung Merapi sejak erupsi pada 26 Oktober hingga sekarang diperkirakan telah mencapai sekitar 140 juta meter kubik dan aktivitas seismik gunung tersebut belum berhenti. "Sebagian besar material vulkanik itu mengarah ke Kali Gendol dan kini bagian atas sungai tersebut telah dipenuhi oleh material vulkanik," katanya.

Namun Subandriyo membantah pemberitaan sebuah media online yang menyebutkan Merapi telah melintasi fase berbahaya. “Tidak, tidak. Saya tidak ngomong seperti itu. Yang saya katakan Merapi telah melampaui letusan 1872. Merapi masih berbahaya. Masih awas dan jarak aman tetap 20 km dari puncak Merapi,” katanya.

Sementara itu kemarin sekitar pukul 14.04 DIY kembali diguncang gempa tektonik. Gempa dengan kekuatan 5,6 SR terjadi dengan pusat sekitar 125 km barat daya Bantul dan kedalaman 10 km.

Secara langsung gempa kemarin belum berpengaruh pada aktivitas Merapi. “Secara langsung gempa belum mempengaruhi Merapi. Tetapi secara tidak langsung belum terlihat, kita tunggu saja,” kata Subandriyo.

Laboratorium
Surono melanjutkan, Gunung Merapi yang saat ini sedang erupsi telah menjadi laboratorium dunia sehingga menjadi perhatian para ahli Vulkanologi dan Geologi dari berbagai negara di penjuru dunia.

“Sekarang yang 3 orang dari Amerika sedang dalam perjalanan, 3 orang dari Jepang, 1 orang dari Sorbonne Perancis dan Cambridge Inggris, tapi yang dari Cambridge setelah melihat data Gunung Merapi menjadi takut, akhirnya ngungsi ke Semarang, ya nggak apalah,” ujar sosok yang akrab dipanggil Mbah Rono tersebut.

Datangnya para ahli geologi tersebut, lanjut Surono, sebagai media sharing dan belajar bersama terhadap fenomena Gunung Merapi yang menarik dicermati sebagai laboratorium alam. “Bukan berarti saya tidak mampu, kendali tetap ada di saya, saya pun sudah bilang peralatan kita cukup, bahwa mereka mau datang dan sharing secara keilmuan itu tidak masalah, bersama kita belajar sama, mereka adalah partner kita,” kata Surono.

from : (Harian Jogja/M Fikri Ar) harianjogja.com
Posting Lama

  • Berita Terakhir
  • Aktivitas

Harian Jogja

Memuat...